Berita

SMPN 7 Kota Bekasi Pengawasan Jam Istirahat Ditingkatkan Buntut Siswa Tewas Main Kuda Tomprok

19
×

SMPN 7 Kota Bekasi Pengawasan Jam Istirahat Ditingkatkan Buntut Siswa Tewas Main Kuda Tomprok

Share this article

Laporan wartawan TribunJakarta.com Yusuf Bachtiar

KILASVIRAL.COM, BEKASI SELATAN – SMPN 7 Kota Bekasi tingkatkan pengawasan di jam istirahat pasca-insiden siswa tewas main kuda tomprok.

Kepala Sekolah SMPN 7 Kota Bekasi Sukamto mengatakan pihaknya telah memiliki satgas disiplin yang berperan melakukan pengawasan aktivitas siswa selama di sekolah.

“Bentuk pengawasan kami sebenernya sudah ada satgas disiplin, pemantauan dari guru,” kata Sukamto.

Satgas disiplin juga memiliki jadwal piket, termasuk memberikan arahan ke siswa melalui pengeras suara terkait kegiatan yang berlangsung di sekolah.

“Ada piket, bahkan setiap masuk sekolah siswa bersalamanan, kemudian kami ada speaker (pengeras suara) yang terus menyampaikan (informasi dan imbauan ke siswa),” jelas dia.

Insiden siswa bernama Muhammad Alfiansyah tewas bermain kuda tomprok terjadi pada jam istirahat, Jumat (17/11/2023).

Saat itu, siswa diarahkan untuk melaksanakan salat Jumat berjemaah. Tetapi, Alfiansyah bersama sejumlah temannya memanfaatkan jeda waktu untuk bermain kuda tomprok di kelas.

Pihak sekolah lanjut Sukamto, telah memberikan informasi agar siswa segera berkumpul ke masjid tetapi hal buruk terjadi di luar dugaan.

Sekolah memerintahkan setiap guru ke depannya akan meningkatkan pengawasan, baik di jam belajar maupun istirahat.

“Kemudian nanti ada juga piket disaat jam-jam istirahat yang guru harus berkeliling,” tegas dia.

Alfian diduga mengalami cedera di bagian kepala belakang saat bermain kuda tomprok, dia tidak sadarkan diri dengan mulut berbusa.

Teman-temannya yang ikut bermain panik, melapor guru dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Primaya, Bekasi.

Nahas, nyawa bocah kelas delapan itu tidak tertolong. Dia dinyatakan tewas oleh dokter yang memeriksanya saat baru tiba di rumah sakit.

Polisi sempat melakukan penyelidikan atas insiden tersebut, tetapi pihak keluarga menolak anaknya dilakukan proses otopsi.

Bersama pihak sekolah, keluarga sepakat kasus ini diselesaikan melalui pendekatan restorative justice terhadap teman-teman yang ikut bermain kuda tomprok.

Baca artikel menarik TribunJakarta.com lainnya di Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *